Google Directory > Technology

Senin, 21 September 2009

Definisi Teknologi

ITB, Institut Teknologi Bandung. Sebagai civitas akademika ITB kita harus mengetahui apa makna sebenarnya dari ITB ini. Terutama huruf “T” yang berada di tengah-tengahnya. Teknologi? Ya. apa arti dari Teknologi itu? Pak Kusmayanto Kadiman (Menristek, mantan rektor ITB) menjelaskan mengenai huruf T (Teknologi) sebagai berikut. Teknologi didefinisikan sebagai paduan sempurna antara ilmu (science), rekayasa (engineering), seni (art), dan ekonomi. Ituah definisi sebenarnya di balik corporate identity ITB. Saya sangat setuju dengan definisi tersebut. Definsi tersebut sangat merepresentasikan kondisi sebenarnya yang ada di ITB. Secara garis besar, ITB dibagi menjadi keempat program studi tersebut, science (Jurusan MIPA), engineering (Jurusan Teknik), Art (seni rupa), dan ekonomi (SBM).

Contoh kongkritnya apa?
Coba ambil handphone kita. Itulah contoh yang paling sederhana untuk menjelaskan definisi teknologi tersebut. Pertama, dari sisi science handphone diciptakan akibat adanya pemikiran terhadap fenomena gelombang. Ada gelombang sinus, kotak, impuls, dan lain-lain. Yang kedua adalah engineering. Tugas utama seorang engineer adalah bagaimana fenomena alam tersebut bermanfaat untuk mencapai kebutuhan manusia. Dari situ mulailah gelombang tersebut dipergunakan untuk mengirim suara, data, video untuk keperluan komunikasi antar manusia.

Dengan teknik modulasi (amplituda,frekuensi,phasa) gelombang tersebut digunakan untuk membawa infomasi. Munculah konsep gelombang elektromagnetik. (Oh My Telco Engineering Side wake up…hehe..). Akan tetapi hal tersebut kurang lengkap tanpa sentuhan seni. Sentuhan warna, bentuk, desain, mempunyai peran tersendiri dalam sebuah produk. Desain ergonomi yang tepat membuat handphone menjadi mudah untuk digunakan. Hingga tahap ini sudah tercipta sebuah handphone. Akan teptapi masih dibutuhkan satu komponen terakhir yaitu ekonomi. Tanpa marketing, promosi dan perhitungan ekonomi yang benar maka handphone tersebut tidak akan memasyarakat. Perlu adanya perhitungan yang benar agar handhone ini dapat beredar di masyarakat. Itulah contoh sederhana dari teknologi. Itulah kompetensi inti dari ITB.

- 20 Mei 2008

Sumber :

http://fikriw.wordpress.com/2008/05/20/definisi-teknologi/

21 September 2009

Technopark, Sarana Pendukung Daya Saing

Setiap tanggal 10 Agustus kita memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional. Pada tanggal itu, tepatnya tanggal 10 Agustus 1995, kita mengenang terbangnya pesawat N 250, yaitu pesawat karya anak bangsa yang jadi kebanggaan Indonesia. Kala itu pesawat dan teknologi tinggi (hi-tech) selain dapat meningkatkan daya saing bangsa, juga memberikan rasa bangga terhadap bangsa dan negara. Empat belas tahun telah berlalu, diselingi oleh krisis keuangan dunia, Indonesia masih belum bisa meningkatkan daya saing dan bahkan hampir tidak memiliki kebanggaan yang bersifat nasional. Berdasarkan data dari World Economy Forum yang memberikan peringkat daya saing dunia, Indonesia menempati posisi ke-55 dari 134 negara. Dalam peringkat tersebut, salah satu elemennya adalah inovasi di mana Indonesia pada posisi 47, suatu posisi yang belum membanggakan. Di dunia saat ini berlaku paradigma ekonomi berbasis ilmu pengetahuan (knowledge based economy).

Dengan ilmu pengetahuan, dicapai kesejahteraan karena sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan optimal. Pemanfaatan yang optimal inilah yang meningkatkan daya saing. Dengan ilmu pengetahuan dan juga teknologi, proses-proses pada pengolahan barang dan jasa menjadi lebih efisien dan akibatnya daya saing meningkat. Pada masa yang lalu, eknonomi memang berbasis pada sumber daya alam. Namun, saat ini kondisi tersebut sudah tidak dapat berlangsung lagi. Tengok saja negara-negara dengan sumber daya alam yang minim, dan bahkan tidak ada sama sekali, dapat mencapai kesejahteraan yang luar biasa. Misalnya saja Singapura, Jepang, dan Finlandia. Sumber daya manusia yang makin unggul, ditopang pula dengan pemanfaatan sumber daya modal, membuat negara-negara tersebut menjadi lebih sejahtera. Jika ukuran sejahtera diindikasikan dengan GDP (produk domestik bruto), Prof Barmawi (Kompas, 22 Juni 2009) menyatakan bahwa negara-negara yang bertumpu pada ilmu pengetahuan dan teknologi, GDP-nya US$ 20.000 ke atas. Sedangkan negara-negara yang masih mengandalkan pada sumber daya alam, GDP-nya di bawah US$ 2.000. Peningkatan daya saing, menggunakan peran ilmu pengetahuan dan teknologi, memerlukan sarana dan prasarana yang menjadi tanggung jawab bukan saja oleh negara, melainkan juga peran aktif dari masyarakat. Kemajuan dan kesejahteraan pada saat ini memerlukan partisipasi masyarakat. Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan sinergi tiga komponen utama: akademisi, kelompok bisnis, dan pemerintah. Sinergi tiga kelompok itu dikenal dengan sinergi ABG
(academician, businessman, government).

Kelompok akademisi merupakan kiprah peneliti dari perguruan tinggi serta lembaga penelitian dan pengembangan (litbang). Secara alamiah mereka adalah kelompok yang berkiprah pada proses litbang untuk mencari invensi, yaitu menemukan hal-hal yang baru. Hasil temuan itu, dengan sentuhan konsep ekonomi dari para pebisnis, menjadi inovasi yang berpotensi memiliki nilai jual. Untuk mencapai rangkaian invensi dan inovasi ini sampai ke pasar, diperlukan suasana yang mendukung dan hal ini diciptakan oleh pemerintah dengan peraturan-peraturan yang kondusif. Salah satu usaha mendekatkan kelompok akademisi dan pebisnis adalah menggunakan wahana yang tepat, yaitu pembangunan
technopark.Technopark adalah suatu kawasan yang menampung fasilitas litbang dan inkubasi yang mempersiapkan suatu temuan (invensi) menjadi produk yang laku di pasar. Umumnya kelompok akademisi tidak memiliki sense berbisnis. Jika bersinergi dengan kelompok bisnis, diperoleh suatu produk yang laku di pasaran. Natur dari akademisi tidak harus diubah menjadi pebisnis, yang kalau tidak fokus biasanya akan berakhir dengan kegagalan. Sedangkan para pebisnis, sudah tentu tidak pas kalau melakukan kegiatan litbang. Para pihak seharusnya berkarya pada bidangnya masing-masing secara profesional.

Di Indonesia konsep
technopark belum berkembang dengan baik. Sampai saat ini baru ada di beberapa lokasi, yaitu di Sragen, Surakarta, dan Jababeka Bekasi.Technopark di sana difasilitasi oleh pemerintah dan swasta, sedangkan negara sudah cukup besar berinvestasi di Puspiptek Serpong. Di technopark Puspiptek jalinan dengan kelompok bisnis belum optimal, sementara dukungan fasilitas dan SDM iptek cukup tersedia. Di Solo Technopark, sinergi belum begitu optimal dengan masih minimnya peran akademisi yang berperan menghasilkan invensi. Di Sragen masih pada tahap awal dan berbasis pada balai latihan kerja yang menggunakan fasilitas teknologi maju. Adapun di Jababeka Bekasi, unsur pemerintah tidak secara langsung hadir.

Dalam kaitan untuk meningkatkan daya saing, lebih khususnya daya saing lokal dalam tatanan regional dan global, peran pemerintah masih harus ditingkatkan dalam memberikan suasana yang kondusif. Pada beberapa hal, peran sektor keuangan masih belum optimal. Dalam hal ini lembaga keuangan modal ventura belum cukup berkembang. Di sini diperlukan dukungan pemerintah agar lembaga litbang dapat memperoleh dana-dana penelitian dari modal ventura.

Salah satu contoh pemerintah daerah yang memberikan dukungan yang luar biasa adalah Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta. Selain dukungan finansial dan fasilitas termasuk lahan, Pemkot Surakarta juga memberikan iklim yang kondusif dengan menerbitkan peraturan daerah. Solo
Technopark dapat dijadikan contoh oleh daerah-daerah lain yang akan meningkatkan daya saing dengan produk-produk yang inovatif dan membanggakan. Karya yang membanggakan tidak harus berupa hal-hal yang spektakuler, tetapi hal-hal sederhana yang bermanfaat dalam peningkatan kesejahteraan pun dapat masuk kelompok yang membanggakan itu. Teknologi tinggi memang monumental, tetapi kemanfaatan lebih monumental. Jayalah bangsa Indonesia.(Suara Karya, 1 September 2009/ humasristek)

- 1 September 2009

Sumber :
Wisnu Sardjono Soenarso
Asisten Deputi Urusan Pengembangan Program Riptek Daerah
Kementerian Negara Riset dan Teknologi
Suara Karya, 1 September 2009/ humasristek, dalam :
21 Setember 2009

Teknologi

Teknologi atau pertukangan memiliki lebih dari satu definisi. Salah satunya adalah pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material danproses yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Sebagai aktivitas manusia, teknologi mulai sebelum sains dan teknik.

Kata teknologi sering menggambarkan penemuan dan alat yang menggunakan prinsip dan proses penemuan saintifik yang baru ditemukan. Meskipun demikian, penemuan yang sangat lama seperti roda juga disebut sebuah teknologi.

Definisi lainnya (digunakan dalam ekonomi) adalah teknologi dilihat dari status pengetahuan kita yang sekarang dalam bagaimana menggabungkan sumber daya untuk memproduksi produk yang diinginkan( dan pengetahuan kita tentang apa yang bisa diproduksi). Oleh karena itu, kita dapat melihat perubahan teknologi pada saat pengetahuan teknik kita meningkat.


Cabang teknologi masa kini :


Sumber :
21 September 2009